
TABULAHAN, MAMASA — 5 Oktober 2026 — Penanganan dugaan keracunan yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, memasuki tahap tindak lanjut setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada dua sampel makanan.
Temuan tersebut mendorong Puskesmas Tabulahan mengambil langkah lanjutan, termasuk melakukan koordinasi dengan pihak pendidikan untuk memperkuat upaya pencegahan serta memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi para siswa.
Sebelumnya, hasil pemeriksaan laboratorium tersebut telah dilaporkan kepada sejumlah pihak, termasuk Bupati Mamasa, Dinas Kesehatan, Polres, Kodim, BIN, serta pihak terkait lainnya.
Selain itu, Puskesmas Tabulahan juga berencana melakukan peninjauan terhadap SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi) yang berkaitan dengan SPPG atau dapur penyedia MBG di Tabulahan.
Puskesmas Koordinasi dengan Korwil Pendidikan
Tidak berhenti pada penanganan di tingkat dapur MBG, Puskesmas Tabulahan juga mulai melakukan koordinasi dengan pihak pendidikan di Kecamatan Tabulahan.
Langkah tersebut dilakukan untuk membahas temuan bakteri pada dua sampel makanan sekaligus menyusun langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan sekolah.
“Barusan kami sudah komunikasi dengan Korwil Pendidikan Kecamatan, untuk meminta jadwal pertemuan dengan pihak-pihak sekolah, dengan pihak-pihak yang terkait sehubungan dengan adanya temuan bakteri dalam dua sampel makanan tersebut,” jelas sumber resmi dari Puskesmas Tabulahan.
Pertemuan tersebut diharapkan dapat melibatkan pihak sekolah dan pemangku kepentingan terkait guna membahas tindak lanjut hasil pemeriksaan laboratorium serta meningkatkan edukasi mengenai kebersihan dan keamanan pangan.
Tiga Langkah Penanganan
Dalam kurun waktu terakhir, Puskesmas Tabulahan mengambil sejumlah langkah sebagai respons terhadap hasil pemeriksaan tersebut.
Pertama, pelaporan dan transparansi. Hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya Staphylococcus aureus pada dua sampel makanan telah disampaikan kepada sejumlah pemangku kepentingan dan aparat terkait untuk mendapatkan tindak lanjut.
Kedua, evaluasi higiene dan sanitasi. Puskesmas berencana melakukan peninjauan terhadap SPPG atau dapur MBG serta status SLHS sebagai bagian dari upaya memastikan standar higiene dan sanitasi terpenuhi.
Ketiga, langkah pencegahan di lingkungan sekolah. Koordinasi dengan Korwil Pendidikan dilakukan untuk menjadwalkan pertemuan bersama pihak sekolah dan pihak terkait. Edukasi mengenai kebersihan, termasuk pentingnya mencuci tangan dan menjaga higiene saat mengonsumsi makanan, juga menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Menunggu Tindak Lanjut Pemeriksaan
Temuan Staphylococcus aureus pada dua sampel makanan menjadi perhatian karena bakteri tersebut dapat berkaitan dengan kontaminasi pangan dan menyebabkan keracunan makanan dalam kondisi tertentu.
Namun, penentuan sumber kontaminasi dan hubungan langsung antara hasil pemeriksaan sampel dengan keluhan kesehatan yang dialami siswa tetap memerlukan penilaian dan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Karena itu, tindak lanjut terhadap kondisi dapur MBG, proses pengolahan dan distribusi makanan, serta higiene para penjamah makanan maupun penerima makanan menjadi penting untuk memastikan akar persoalan.
Puskesmas Tabulahan dijadwalkan melakukan langkah lanjutan terhadap SPPG/dapur MBG, termasuk terkait status SLHS. Publik kini menunggu hasil tindak lanjut tersebut serta hasil koordinasi antara Puskesmas, Korwil Pendidikan, sekolah, dan pihak terkait lainnya.
Penanganan yang cepat, terbuka, dan berbasis hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberikan kepastian kepada siswa, orang tua, sekolah, dan masyarakat mengenai keamanan pelaksanaan program MBG di Kecamatan Tabulahan.(HW/Mis)


