Dudukperkara.com – KENDAL, Pembelajaran di kelas tidak harus selalu berlangsung dengan pola siswa duduk, mendengarkan penjelasan guru, kemudian mengerjakan soal. Gagasan berbeda diterapkan di SDN 3 Plososari, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, melalui inovasi pembelajaran digital KENDAL (Kombinasi Edukasi, Numerasi, dan Literasi) yang memadukan teknologi, aktivitas bergerak, kerja kelompok, serta pembelajaran kontekstual.
Inovasi yang dikembangkan Beta Amalia Zuliazani, S.Pd., M.Pd., tersebut diterapkan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, interaktif dan menyenangkan bagi peserta didik, khususnya melalui pembelajaran yang mendorong siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengamati, berdiskusi, menganalisis, mencoba dan memecahkan masalah.
Media KENDAL berbentuk web yang memuat tujuan pembelajaran, materi, aktivitas pembelajaran dan evaluasi. Di dalamnya juga terdapat video, musik dan lagu sebagai bagian dari media interaktif.
Dalam penerapannya, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka kemudian secara bergiliran bergerak dari satu pos pembelajaran ke pos lainnya. Setiap pos memiliki aktivitas dan tugas yang berbeda. Laptop digunakan di setiap pos untuk membantu siswa menyelesaikan tantangan pembelajaran.
Menurut Beta, kekuatan inovasi tersebut bukan semata-mata pada penggunaan teknologi. Konsep pembelajaran aktif, rotasi pos dan kerja kelompok memang bukan hal baru. Namun, perpaduan ketiganya dengan media digital KENDAL menjadi bagian dari inovasi yang dikembangkannya.
“Saya memilih model ini karena ingin menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, interaktif dan menyenangkan. Dalam pembelajaran harus selalu berupaya untuk berinovasi agar anak tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga bergerak, berdiskusi, mencoba dan bekerja sama,” ujar Beta.
Inovasi tersebut juga dikembangkan dalam pembelajaran IPAS kelas V mengenai upaya pelestarian lingkungan. Permasalahan sampah yang ada di lingkungan sekolah justru dijadikan sumber belajar bagi siswa.
Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar mengamati dan mengidentifikasi jenis sampah, mencari informasi melalui wawancara, serta memahami jumlah dan pengelolaan sampah. Aspek literasi dan numerasi kemudian dipadukan dengan aktivitas nyata di lingkungan sekolah.
Pembelajaran semakin diperkuat dengan miniatur tong sampah serta pembiasaan SAHARA (Satu Hari Satu Sampah) dan BELI (Bekal dari Rumah, Lingkungan Pun Ramah). SAHARA mengajak siswa membiasakan diri memungut dan membuang sampah setiap hari, sedangkan BELI mendorong siswa membawa bekal dari rumah untuk mengurangi sampah, khususnya dari kemasan makanan.
“Anak-anak menjadi lebih aktif, antusias dan terlibat dalam pembelajaran. Mereka belajar bekerja sama, berkomunikasi, memecahkan masalah serta memanfaatkan teknologi secara positif,” jelas Beta.
Menurutnya, model pembelajaran tersebut tidak hanya dapat diterapkan pada kelas V. Dengan penyesuaian materi dan tingkat kesulitan, konsep serupa dapat dikembangkan untuk kelas I hingga VI. Pada kelas rendah, aktivitas dapat dibuat lebih sederhana dengan gambar, permainan dan pendampingan di setiap pos. Sementara kelas tinggi dapat diberikan tantangan, diskusi dan pemecahan masalah yang lebih kompleks.
Inovasi KENDAL akhirnya menunjukkan bahwa teknologi dalam pendidikan tidak harus menjauhkan siswa dari lingkungan sekitar. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi pintu masuk untuk membawa siswa mengamati persoalan nyata, berpikir kritis, bekerja sama dan mengambil tindakan sederhana.
Dari persoalan sampah di lingkungan sekolah, siswa tidak hanya belajar tentang literasi dan numerasi, tetapi juga belajar bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab yang dapat dimulai dari tindakan kecil setiap hari.
( pujiono kendal)


