
Oplus_131072


Di balik hijaunya perbukitan dan indahnya alam Kabupaten Mamasa, kini tersimpan sebuah kegelisahan yang semakin dalam. Persoalan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Salurano bukan lagi sekadar persoalan sampah, tetapi telah menjadi ujian bagi kemanusiaan, kepemimpinan, dan persatuan masyarakat Mamasa.
Setiap hari sampah terus bertambah, sementara solusi yang dinantikan masih tertahan oleh perbedaan pandangan. Di tengah keadaan ini, yang paling merasakan dampaknya bukanlah mereka yang berdebat, melainkan masyarakat yang mendambakan lingkungan yang bersih, sehat, dan aman bagi anak-anak mereka.
Pepatah mengatakan, “kalah menjadi arang, menang menjadi abu.” Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa jika setiap pihak hanya mempertahankan ego dan merasa paling benar, maka pada akhirnya tidak akan ada yang benar-benar menang. Yang kalah adalah rakyat, yang terluka adalah lingkungan, dan yang dipertaruhkan adalah masa depan Mamasa.
Persoalan TPA Salurano seharusnya tidak menjadi alasan untuk memperlebar jurang perbedaan. Sebaliknya, persoalan ini harus menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, membangun dialog, dan melahirkan solusi yang adil bagi semua pihak. Sampah adalah tanggung jawab bersama, sehingga penyelesaiannya pun harus menjadi tanggung jawab bersama.
Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh unsur pemerintah—eksekutif, legislatif, yudikatif, Forkopimda—bersama tokoh agama, tokoh adat, akademisi, pemuda, organisasi masyarakat, dan seluruh warga Mamasa duduk dalam satu meja musyawarah. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk menemukan jalan keluar yang terbaik demi kepentingan masyarakat.
Semua alternatif perlu dikaji secara objektif dan ilmiah. Apakah pengelolaan sampah dilakukan melalui TPA regional, TPA di setiap kecamatan, sistem berbasis desa, penguatan pengelolaan di tingkat dusun, atau mendorong setiap rumah tangga memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya. Apa pun pilihan yang diambil, hendaknya didasarkan pada kajian yang matang, memperhatikan aspek lingkungan, kesehatan masyarakat, kemampuan anggaran daerah, dan keberlanjutan pembangunan.
Mamasa tidak membutuhkan konflik yang berkepanjangan. Mamasa membutuhkan persatuan. Kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Kekerasan hanya melahirkan luka, rasa takut, dan menghambat pembangunan. Sebaliknya, musyawarah yang dilandasi kasih, saling menghormati, dan semangat gotong royong akan melahirkan keputusan yang membawa kedamaian dan kesejahteraan.
Hari ini, masyarakat Mamasa tidak sedang menunggu siapa yang memenangkan perdebatan. Masyarakat menunggu keberanian para pemimpin dan seluruh elemen masyarakat untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebab sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling tulus menghadirkan solusi.
Mari kita dengarkan air mata Salurano. Air mata yang bukan sekadar tentang tumpukan sampah, tetapi tentang harapan masyarakat yang mendambakan kedamaian, kesehatan, dan masa depan yang lebih baik. Jangan biarkan persoalan ini meninggalkan warisan perpecahan bagi generasi mendatang.
Mamasa adalah rumah kita bersama. Rumah ini hanya akan menjadi tempat yang nyaman apabila dibangun dengan kasih, kebijaksanaan, dan semangat persaudaraan. Mari bergandengan tangan, menurunkan ego, menguatkan dialog, dan mencari solusi terbaik. Karena ketika masyarakat dan para pemimpinnya bersatu, tidak ada persoalan yang terlalu besar untuk diselesaikan.
Semoga air mata di Salurano menjadi air mata terakhir yang jatuh karena perbedaan. Semoga setelahnya, yang tumbuh adalah harapan, persatuan, dan tekad bersama untuk membangun Mamasa yang mandiri, damai, bersih, dan sejahtera.
Hormat saya,
Herman Welly
Semoga tulisan ini dapat menjadi ajakan yang menyejukkan dan menggugah semua pihak untuk mengedepankan dialog, musyawarah, dan kepentingan masyarakat Mamasa di atas perbedaan.
