MAMASA – Kegiatan perkemahan Pramuka di Kecamatan Messawa, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, berujung duka. Seorang siswi SDN 001 Messawa, meninggal dunia setelah mengalami insiden tenggelam di sungai saat mengikuti rangkaian kegiatan Pramuka, Jumat (14/8/2026).
Peristiwa tersebut terjadi di Dusun Salukemba, Desa Rippung, Kecamatan Messawa. Saat kejadian, korban diketahui bersama tiga orang temannya dan seorang guru berinisial MB menuju sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi perkemahan.
Informasi dari Kasat Reskrim Polres Mamasa, Iptu Drones Ma’dika, menyebutkan bahwa kejadian berlangsung sekitar pukul 15.00 Wita. Ketika berada di sungai, korban terbawa arus menuju bagian yang cukup dalam. Korban diketahui tidak dapat berenang sehingga mengalami kesulitan untuk menyelamatkan diri.
Melihat kondisi tersebut, guru yang mendampingi rombongan kemudian kembali ke lokasi perkemahan untuk meminta bantuan. Sejumlah personel kepolisian dan guru pendamping yang berada di lokasi selanjutnya bergerak melakukan pertolongan dan mengevakuasi korban.
Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Messawa untuk mendapatkan penanganan medis. Karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, korban dirujuk ke RS Andi Depu Polewali Mandar sekitar pukul 16.50 Wita. Namun, korban dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit rujukan.
Pihak kepolisian sebelumnya juga disebut telah memberikan imbauan kepada panitia agar meningkatkan pengawasan terhadap seluruh peserta yang mengikuti kegiatan Pramuka.
Kepergian korban meninggalkan duka bagi keluarga, pihak sekolah, serta seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Namun, di tengah suasana duka, muncul pula dorongan agar peristiwa ini tidak hanya dilihat sebagai sebuah musibah, tetapi juga dievaluasi dari sisi penyelenggaraan kegiatan dan aspek keselamatan peserta.
Pasalnya, kejadian berlangsung ketika korban sedang mengikuti kegiatan Pramuka yang merupakan aktivitas terorganisasi dan melibatkan peserta didik. Karena itu, penting untuk melihat secara menyeluruh bagaimana kegiatan tersebut dipersiapkan dan bagaimana sistem pengawasan terhadap peserta diterapkan di lapangan.
Dari perspektif hukum, peristiwa ini perlu dilihat secara objektif dan tidak boleh berhenti hanya pada fakta bahwa korban mengalami musibah tenggelam.
Hal yang perlu diperiksa antara lain bagaimana kegiatan tersebut direncanakan, siapa yang bertanggung jawab terhadap keselamatan dan pengawasan peserta, bagaimana standar keselamatan diterapkan, serta apakah lokasi dan aktivitas yang dilakukan sebelumnya telah melalui proses identifikasi maupun penilaian risiko.
Termasuk perlu diketahui apakah terdapat prosedur khusus ketika peserta kegiatan hendak meninggalkan area perkemahan menuju lokasi lain, terutama lokasi yang memiliki potensi bahaya seperti sungai.
Sorotan tersebut bukan berarti secara otomatis menyatakan telah terjadi kelalaian atau kesalahan dari pihak tertentu. Penilaian mengenai ada atau tidaknya kelalaian tentu harus berdasarkan fakta, pemeriksaan, serta keterangan dari pihak-pihak yang berwenang.
Justru karena itu, evaluasi secara menyeluruh dinilai penting agar seluruh rangkaian peristiwa dapat diketahui secara terang dan tidak menimbulkan kesimpulan sepihak di tengah masyarakat.
Kegiatan Pramuka pada dasarnya memiliki nilai pendidikan, kedisiplinan, kemandirian, dan pembentukan karakter. Namun, ketika kegiatan di luar lingkungan sekolah dan melibatkan aktivitas di alam terbuka, aspek keselamatan peserta harus menjadi perhatian utama. Terlebih peserta kegiatan merupakan anak-anak yang secara usia dan kemampuan fisik membutuhkan pengawasan serta pendampingan yang memadai.
Peristiwa di Messawa ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kegiatan Pramuka maupun satuan pendidikan agar setiap kegiatan serupa ke depan memiliki pemetaan risiko yang lebih baik, sistem pengawasan yang jelas, serta prosedur tanggap darurat yang memadai.
Publik juga berharap pihak-pihak terkait dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai pelaksanaan kegiatan, sistem pendampingan peserta, hingga langkah keselamatan yang telah dilakukan sebelum dan saat kejadian.
Di sisi lain, keluarga korban kini harus menghadapi kehilangan yang begitu berat. Belasungkawa dan dukungan moral diharapkan dapat diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Semoga kepergian almarhumah menjadi duka terakhir dalam kegiatan pendidikan dan kepramukaan, sekaligus menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk menempatkan keselamatan anak sebagai prioritas utama dalam setiap kegiatan.
(Misda Apriyani)

