Mamasa – Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Air Kehidupan, Herman Welli, yang beralamat di Desa Rantekamase, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, melaksanakan kegiatan studi banding ke Pokdakan Usaha Bersama di Desa Beruk Beruk, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan serta meningkatkan kapasitas kelembagaan pembudidaya melalui pertukaran pengalaman dan penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien, ekonomis, dan berkelanjutan.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua Pokdakan Usaha Bersama, Daeng Sani, memaparkan berbagai strategi budidaya ikan lele yang telah diterapkan secara konsisten. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan pakan alternatif yang berasal dari limbah pemotongan hewan dan limbah pasar sebagai pengganti pakan pelet komersial. Pendekatan ini tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam pengelolaan limbah organik melalui prinsip ekonomi sirkular.
Keberhasilan sistem budidaya tersebut didukung oleh penggunaan probiotik secara intensif untuk menjaga kualitas air, meningkatkan efisiensi pencernaan ikan, mempercepat pertumbuhan, serta mengurangi risiko serangan penyakit. Kombinasi antara pakan alternatif dan teknologi probiotik terbukti mampu menghasilkan produktivitas yang optimal dengan biaya operasional yang lebih rendah.
Menariknya, seluruh kebutuhan air kolam di Pokdakan Usaha Bersama dipenuhi melalui pemanfaatan air tanah yang dipompa menggunakan mesin diesel dan dioperasikan selama 24 jam. Sistem ini menjamin ketersediaan air secara berkelanjutan sehingga kualitas lingkungan budidaya tetap terjaga.
Dengan luas kolam sekitar 5 × 20 meter, Pokdakan Usaha Bersama mampu memproduksi hingga satu ton ikan lele dalam satu siklus pemeliharaan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan usaha budidaya tidak semata-mata ditentukan oleh skala lahan, melainkan oleh penerapan manajemen budidaya yang tepat, efisiensi penggunaan sumber daya, serta kemampuan dalam mengadopsi inovasi teknologi.
Herman Welli menyampaikan bahwa hasil studi banding ini diharapkan menjadi referensi penting bagi Pokdakan Air Kehidupan dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha budidaya ikan di Kabupaten Mamasa. Pengetahuan yang diperoleh akan menjadi dasar dalam mengembangkan sistem budidaya yang adaptif terhadap kondisi lokal tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan dan kelayakan ekonomi.
Kegiatan studi banding merupakan salah satu instrumen pembelajaran yang efektif dalam pengembangan kapasitas kelompok pembudidaya ikan. Melalui proses berbagi pengalaman dan transfer inovasi, para pembudidaya memperoleh wawasan baru yang dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing. Dengan demikian, diharapkan lahir berbagai inovasi lokal yang mampu memperkuat ketahanan sektor perikanan budidaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendukung pembangunan ekonomi daerah yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
(Misda Apriyani)


