DUDUKperkara.com | Sulawesi Barat,-Tangisan itu kini tidak lagi bisa disembunyikan. Ia pecah, menggema, dan menghantam nurani siapa pun yang masih memiliki hati—dari pelosok Bonehau hingga Kalumpang.
Rakyat menjerit di atas jalan yang hancur, berlumpur, dan nyaris tak layak disebut akses kehidupan. Namun yang lebih menyakitkan, jeritan itu seperti berteriak ke ruang kosong—tanpa jawaban dari para pemimpin di Sulawesi Barat.
Ketua Komisi Daerah (Komda) Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP.K-P-K) melalui Eliasib menyampaikan kemarahan yang sudah mencapai batas.
Ini bukan sekadar kritik—ini adalah dakwaan moral terhadap para wakil rakyat yang dinilai telah mengkhianati amanah yang diberikan oleh rakyat.
Setiap meter jalan yang rusak adalah bukti kelalaian. Setiap lubang yang menganga adalah saksi bisu dari janji-janji yang tak pernah ditepati. Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan penderitaan. Mobil rusak, biaya membengkak, dan rakyat kecil dipaksa menanggung semuanya sendiri—tanpa kehadiran negara, tanpa empati pemimpin.
Kondisi ini memaksa para driver mengambil keputusan pahit: menaikkan tarif transportasi. Dari Rp130.000 hingga Rp300.000, angka-angka ini bukan sekadar ongkos perjalanan, tetapi harga dari penderitaan yang terus dipikul rakyat setiap hari. Ini adalah bukti nyata bahwa kerusakan infrastruktur telah berubah menjadi beban ekonomi yang menyesakkan.
Namun pertanyaan besar yang mengguncang adalah:
. Di mana para wakil rakyat?
. Di mana mereka yang dulu datang membawa harapan, menyusun kata-kata manis, dan bersumpah akan memperjuangkan rakyat?
Hari ini, yang tersisa hanyalah diam. Diam yang menyakitkan. Diam yang melukai. Diam yang menunjukkan bahwa kekuasaan telah menjauhkan mereka dari realitas penderitaan rakyat.
LP.K-P-K menegaskan dengan keras: berhenti berpura-pura tidak tahu! Rakyat tidak bodoh. Rakyat melihat, merasakan, dan kini bersuara. Pembiaran ini bukan lagi kelalaian—ini adalah bentuk pengabaian yang disengaja!
Lebih dari itu, lembaga ini mengingatkan bahwa Pers dan lembaga pengawal bukanlah ancaman bagi kekuasaan. Mereka adalah penjaga nurani publik, adalah suara yang tidak akan pernah berhenti menggema ketika rakyat diperlakukan tidak adil.
Menyerang atau menghindari kritik berarti menutup telinga terhadap kebenaran.
Jika para pemimpin mulai alergi terhadap kritik, maka sesungguhnya mereka telah kehilangan kelayakan moral untuk disebut sebagai wakil rakyat.
Pesan keras juga ditujukan kepada seluruh masyarakat:
Jangan lagi tertipu oleh janji-janji kosong yang berulang setiap musim pemilihan. Jangan gadaikan masa depan hanya demi uang sesaat. Karena ketika suara telah dibeli, maka penderitaan seperti hari ini adalah konsekuensi yang harus ditanggung selama lima tahun ke depan.
Hari ini rakyat BOKA tidak hanya berbicara—mereka menangis, mereka berteriak, mereka menuntut keadilan.
Dan jika para pemimpin tetap memilih bungkam, maka satu hal yang pasti:
sejarah tidak akan mencatat mereka sebagai pemimpin…
melainkan sebagai pihak yang membiarkan rakyatnya tenggelam dalam penderitaan tanpa kepedulian.
Rilis : Duduk Perkara.Com
Sumber : Eliasib
