Dudukperkara.com|JAKARTA – Setelah gelombang semangat baru dari Musyawarah Besar (Mubes) LAMAHU IX yang baru seminggu lalu dilaksanakan, warga Gorontalo di perantauan di Jakarta kini tengah diselimuti hangatnya ikatan persaudaraan melalui sebuah silaturahmi special bersifat non formal,terselenggara kemarin di sebuah Café Jakarta Barat,Senin 1/02/2026.
Inisiatif personal dari para pemerhati Lamahu ini bukan sekadar pertemuan biasa, tapi upaya heroik untuk menyatukan kembali tali kekerabatan antar anggota dan pengurus, menjaga harmoni di tengah dinamika organisasi.

Turut hadir dalam pertemuan yang penuh keakbaran tersebut di antaranya :
1. Roy Dunda
2. Berti Isa
3. Brigjend Pol.Purn Alfons Toluhula
4. Hamzah Isa
5. Abdul Kadir Didi Baga
6. Haris Rahim
7. Dahlan Pido
8. Andi Abdul Rahman Onge (Andi Aro)
9. Amirudin Monoarfa
10. Rustam Amirudin
11. Taufik Polapa
12. Ivonne Monoarfa
13. Dan lain-lain
Semangat huyula,heluma lo hulondhalo ini bagian budaya Gorontalo, tentang gotong royong – berpartisipasi membangun gagasan/ide/konsep yang dibalut dalam heluma membangun kerja sama mempererat silaturahmi yang berbeda dengan agenda resmi organisasi, acara ini lahir dari dorongan hati nurani para tokoh Gorontalo yang tak ingin lihat solidaritas pudar setelah ajang lima tahunan Mubes IX.

Sebagai jembatan emosional, mereka memilih momen pasca Mubes Lamahu untuk membuka ruang komunikasi mengingatkan semua bahwa perbedaan pendapat hanyalah bagian alami—tapi persaudaraan sebagai saudara perantauan adalah fondasi abadi dan nyatanya momen tersebut tidak membicarakan secara soal silang pendapat dalam Mubes Lamahu IX.
Dalam ajang silaturahmi ini dihadiri oleh para demosioner beberapa pengurus Bubato,Bandayo, Wolihi (Pilar) yang juga bukan atas nama OC/SC Mubes Lamahu, tidak menggunakan atribut di atas tapi lebih pada person to person (red-atas nama pribadi masing-masing) yang disebut oleh peliput berita sebagai “Pemerhati” Lamahu.
Suasana Kekeluargaan Menyambut Ramadan

Diselenggarakan tepat jelang Bulan Suci Ramadan, silaturahmi ini dipenuhi aroma kehangatan yang susah dirangkai dengan kata-kata. Para hadirin saling berjabat tangan erat, berbagi cerita tentang kenangan Gorontalo, dan tertawa bersama seperti keluarga yang pulang ke pangkuan ibunda serta bernyanyi membawakan tembang kenangan.
Salah satu inisiator, dengan mata berbinar, berkata:
“Tujuan utama kita adalah menyongsong bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih, yang ada hanyalah semangat kebersamaan untuk membangun dan merawat silaturahmi Lamahu ke depan.” Ucap Alvons
Ucapan itu menggugah jiwa, mengubah potensi retak menjadi pondasi kokoh.
Ditempat yang sama Hamzah Isa bercerita tentang historys Duluo Limo Lo Pohalaa serta bagaimana peran Bandhayo dalam system kerajaan di masa lampau yang diadopsi dalam struktur Lamahu, maka apa yang dialami oleh organisasi apapun khususnya organisasi rantau termasuk Lamahu, bahwa dinamika Lamahu dari masa ke masa telah mewarisi aspek filosofi budaya Gorontalo yang tidak bisa dinafikan begitu saja.Tutur Hamzah.
Berikut ini beberapa catatan hikmah yang dapat diaplikasikan pasca Mubes Lamahu :
1. Menghapus residu perbedaan pendapat selama Mubes IX, ganti dengan damai dan saling memahami prinsip masing-masing serta menjadi catatan Lamahu ke depan
2. Penyucian Diri: Siapkan mental dan spiritual untuk puasa, fokus pada taqwa dan introspeksi.
3. Komitmen Bersama: Dorong dukungan kolektif untuk masyarakat Gorontalo rantau, demi kemajuan warga Gorontalo di mana pun.
Dengan semangat Mohuyula (gotong royong), silaturahmi ini diyakini akan jadi batu loncatan bagi Lamahu untuk terus berkontribusi positif, baik di negeri orang maupun di kampung halaman Gorontalo.(RD-Amir.M)
