JAKARTA — Peringatan 40 hari wafatnya legenda sepak bola nasional, H. Bob Hippy, MBA., menjadi momentum penuh makna bagi keluarga, sahabat, masyarakat Gorontalo, dan insan sepak bola Indonesia. Dalam rangkaian doa tahlilan dan prosesi adat Gorontalo di kediaman almarhum di Jakarta, Minggu (18/10/2026), almarhum dianugerahi gelar adat kehormatan “Taa Lopo Dulungo Bubaya” sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dan keteladanannya sepanjang hayat.
Bob Hippy mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada Sabtu, 5 September 2026, sekitar pukul 16.30 WIB. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia olahraga nasional dan masyarakat Gorontalo yang mengenal almarhum sebagai sosok berdedikasi tinggi.

Gagasan penganugerahan gelar adat tersebut bermula saat prosesi pemakaman almarhum. Sejumlah tokoh, di antaranya Roem Kono dan Toni Uloli, menginisiasi pemberian penghormatan adat atas jasa Bob Hippy dalam persepakbolaan nasional, perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo, serta aktivitas sosial kemasyarakatan. Gagasan itu kemudian diteruskan kepada Amirudin Monoarfa untuk dikomunikasikan kepada Marten Taha, mantan Wali Kota Gorontalo, dan selanjutnya dibahas bersama para pemangku adat serta pemerintah daerah.
Baca Juga : LP.K-P-K Bidik Gerakan Nasional, Andi Aro Siapkan 1.000 Paralegal untuk Perjuangkan Akses Keadilan
Penganugerahan tersebut dituangkan dalam piagam penghargaan yang ditandatangani para pemangku adat dari unsur Ulipu lo Uduluwo Limo Pohalaa, yang mewakili kelompok-kelompok adat Gorontalo. Piagam itu juga dibubuhi tanda tangan Bupati Gorontalo Sofyan Puhi dan Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea.
Salah satu pemangku adat, Yunus Hako, bersama Karim Delatu, didampingi tokoh adat Gorontalo di Jakarta, H. Rivai Humonggio, menyerahkan piagam penghargaan tersebut. Dalam penjelasannya kepada awak media, Yunus menguraikan filosofi yang mendasari pemberian gelar kehormatan itu.

Menurutnya, kehidupan yang bermakna bukan sekadar mempertahankan keberadaan diri, melainkan juga membangun hubungan harmonis dengan alam dan sesama manusia. Dalam pemaknaan sastra lokal Gorontalo, perjalanan hidup yang sarat dedikasi itu berkaitan dengan nilai bubaya. Sementara itu, mopo dulungo menggambarkan peran sebagai penentu arah atau haluan kehidupan.
“Memadailah keteladanan yang ditorehkan almarhum untuk menyandang gelar Taa Lopo Dulungo Bubaya,” demikian penjelasan Yunus mengenai makna filosofis gelar tersebut.
Jejak Pengabdian di Sepak Bola dan Gorontalo
Bob Hippy merupakan bagian dari generasi emas sepak bola Indonesia era 1960-an. Namanya tercatat dalam sejarah prestasi nasional setelah turut mengantarkan Indonesia meraih gelar juara Piala Asia U-19 tahun 1961 di Bangkok. Dedikasinya terhadap olahraga berlanjut mela;lui kiprah profesional dan pendidikan. Almarhum meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari New York University, ALmerika Serikat, serta pernah berkarier di Bank of America dan sejumlah perusahaan.
Dalam organisasi sepak bola, Bob Hippy pernah berkiprah di Persija dan PSSI. Pada periode kepengurusan PSSI 2011–2015, ia mengemban sejumlah tanggung jawab, termasuk di bidang pengembangan sepak bola dan pembinaan pemain usia muda. Perhatiannya terhadap masa depan sepak bola Indonesia menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya.
Di luar lapangan, Bob Hippy turut berjuang bersama Presidium Nasional Pembentukan Provinsi Gorontalo (Presnas P2GTR), yang berperan dalam perjuangan pembentukan provinsi tersebut. Ia juga mengabdikan diri sebagai Ketua Umum LAMAHU Jabodetabek selama dua periode sejak 2003 dan kemudian menjadi pembina Komunitas Pilar-Pilar LAMAHU. Namanya bahkan pernah diperhitungkan dalam dinamika tokoh yang berpotensi memimpin Provinsi Gorontalo.
Penganugerahan gelar adat “Taa Lopo Dulungo Bubaya” menjadi simbol bahwa jasa seseorang tidak berhenti ketika hayat berakhir. Pesan dan kesan peringatan ini dituturkan oleh Wali Kota Jakarta Selatan, Dr. Syafrin Liputo, bahwa sosok Bob Hippy sebagai figur yang patut dikenang atas pengabdian, keteladanan, serta kontribusinya bagi olahraga dan masyarakat.
Pesan penghormatan itu diharapkan menjadi pengingat bagi generasi penerus agar terus merawat persaudaraan, menjunjung nilai pengabdian, dan meneruskan semangat almarhum dalam membangun bangsa serta daerah,tutup Syafrin Liputo.#

